Opini

Ke Selatan Mencari Berkah

Ke Selatan Mencari Berkah

Demikianlah kisahnya mengapa arus emigrasi keluar Tiongkok lebih banyak mengalir ke Selatan, yakni ke wilayayh tropis yang relatif beriklim lebi bersahabat dan kebetulan pada masa tersebut pun sedang membutuhkan banyak tenaga kerja serta tengah membuka diri, atau tidak menolak, terhadap arus kedatangan warga baru.

Sudah tentu sebagai pendatang kaum imigran Tionghoa menjadi kelompok minoritas di antara penduduk lokal setempat.

Posisi minoritas ini pada awalnya ternyata lebih menguntungkan daripada merugikan karena mereka menjadi bebas bergerak dan berikhtiar tanpa dicemburui.

Para imigran Tionghoa pertama kebanyakan adalah petualang yang memang juga tak memiliki apa-apa dan bukan siapa-siapa di negerinya.

Jadi kalau di tanah rantau tidak menjadi siapa-siapa dan harus membanting tulang mencari sesuap nasi, bukanlah masalah besar.

Pada konstelasi politik zaman itu yang relatif tidak rumit, kaum imigran Tionghoa tak banyak direcoki, meskipun sikap begini dari pemerintah setempat justru menempatkan imigran Tionghoa pada status yang serba tidak jelas.

Mereka cuma dianggap sebagai Orang Asing yang Menetap atau Warga Kelas Dua.

Posisi kaum imigran Tionghoa pada masa lalu ada pada sebuah point of no return, sehingga terpaksa berjuang menghadapi kemungkinan terburuk atau gugur, tetapi tidak bisa mundur.