Opini

Ke Selatan Mencari Berkah

Ke Selatan Mencari Berkah

Bagi imigran Tionghoa menjadi minoritas dan akhirnya hidup sebagai pedagang adalah pilihan karena terpaksa sejak pertama. Karena perdagangan pada zaman akhir abad 19 atau awal 1900-an, abad 20, di wilayah Nusantara berkembang pesat, maka imigran Tionghoa yang memang menggeluti bidang ini menemukan momentum maju.

Kian hari posisi mereka sebagai pedagang menjadi kian kuat dan penting.

Status dan peran sebagai pedagang yang menguntungkan mendorong kaum imigran Tionghoa tumbuh menjadi kaya.

Dan bagai efek bola salju, kekayaan mereka pun bertambah dengan cepat.

Kesengsaraan masa laumpau di tanah leluhur membuat orang Tionghoa di rantau pandai menemukan peluang sekecil apapun untuk diolah.

Dari sejak berabad-abad lalu sampai zaman terjadinya eksodus warganya ke Asia Tenggara pada awal abad 19 kebudayaan, teristimewa dalam arti keterampilan, Tiongkok Daratan memang relatif lebih maju daripada bangsa lain.

Dalam kasus Indonesia yang saat menerima para imigran Tionghoa sedang dijajah Belanda, kedatangan warga baru ini menciptakan satu lapis masyarakat tersendiri di tengah-tengah golongan elit yang terdiri atas bangsa Eropa dan penduduk asli Indonesia.

Indonesia merupakan negeri tropis yang tidak mengenal musim panas atau dingin sangat menguntungkan imigran Tionghoa yang pernah kepanasan dan kedinginan di negeri leluhur.

Jika alam sudah bersahabat, mencari peluang untuk mempertahankan hidup sudah bukan perkara pelik.