Opini

Kegigihan dan Panggilan Hati

Kegigihan dan Panggilan Hati

Orang kampung sudah meminta dia dan enumerator pulang hari itu, setelah diancam.Tapi, Aloysius tetap ngotot bertahan. Di tengah situasi itu dia masih tetap melakukan wawancara dengan responden, dan berhasil mendapatkan tambahan data.

Prinsipnya, kata Aloysius, dia datang dengan baik, bermaksud baik, tentu tidak akan diapa-apakan oleh orang kampung. Karena prinsip itulah dia bertahan tanpa takut. Hingga kemudian ada warga yang mengingatkannya.

“Akhirnya, warga bilang, kalau bapak tidak pulang juga, salah satu nanti mungkin akan diculik. Akhirnya, kami pulang, diantar orang di kampung itu hingga ke kota,” ujarnya.

Peristiwa itu membekas juga dalam ingatannya. Ada trauma yang dialami. Sehingga sempat terpikir untuk tidak mau lagi terlibat dalam survei serupa.

Tetapi, nampaknya, panggilan jiwa untuk terus berpartisipasi dan mengabdi pada bangsa dan memberikan manfaat bagi masyarakat, membuatnya berpikiran lain. Dia pun ikut lagi dalam survei tahun 2018.

Saya kira penghargaan untuk Aloysius sewajarnya diberikan. Itulah bentuk apresiasi atas kegigihan, kesabaran, dan amanah. Bahkan, lebih dari sekadar didaulat dengan gelar terbaik, diberi kesempatan bicara, orang seperti Aloysius sepatutnya diberi sesuatu yang lebih. Orang seperti itulah yang dibutuhkan masyarakat dan negara untuk masa depan. Orang yang layak untuk menjadi bagian dalam era pemerintahan yang berslogan: kerja, kerja, kerja. (*)