Opini

Kenangan Ketua Yayasan Sultan Hamid bersama Putri Sang Proklamator

Kenangan Ketua Yayasan Sultan Hamid bersama Putri Sang Proklamator
Ketua Yayasan Sultan Hamid (berbaju batik biru) berdampingan dengan putri Sang Proklamator, Prof Dr Meutia Hatta saat menjadi narasumber budaya di Gedung Rektorat Universitas Tanjungpura, Pontianak, Oktober, 2019. Foto Dok FB-Anshari Dimyati (Repro)

Oleh: Anshari Dimyati

Betul memang, Mohammad Hatta adalah seorang intelektual dan ideolog yang lahir di negara ini. Dengan membangun ideologi bangsa, Bung Hatta berjuang keras meletakkan dasar persatuan sebagai tujuan demokrasi dan pancasila kita.

Kita patut berterima kasih kepada Bung Hatta, yang melahirkan banyak gagasan, di masa awal kemerdekaan dan pembangunan.

Hatta berkata “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.”

Negarawan seperti Hatta tak berfikir tentang “saya” atau “kita”. Hatta masuk lebih dalam pada frasa “mereka”, rakyatnya. Kepeduliannya pada rakyat tak sekadar konsepsi dan aplikasi, melainkan konstruksi dan jati diri.
Hatta adalah pahlawan, yang setia berkorban. Bukan untuk dikenal namanya, tapi semata-mata membela cita-cita.

Hatta seorang yang jujur. Jujur membentangkan fakta yang ada. Hatta berkata apa adanya, dia ingat koleganya, Sultan Hamid II yang menorehkan tintanya untuk bangsa. Bubuhan tandatangan dalam KMB sebagai tanda kedaulatan didapatkan. Dan, lambang negara elang rajawali garuda pancasila. Itu untuk Indonesia, bukan lainnya.

Kebijaksanaan Hatta mengungkap kebenaran, penting untuk masa depan. Penting untuk generasi yang akan datang. Bahwa kita tak pernah lupa dengan jasa. Jasa pahlawan kita.