in

Kenangan Ketua Yayasan Sultan Hamid bersama Putri Sang Proklamator

WhatsApp Image 2020 07 04 at 12.08.49
Ketua Yayasan Sultan Hamid (berbaju batik biru) berdampingan dengan putri Sang Proklamator, Prof Dr Meutia Hatta saat menjadi narasumber budaya di Gedung Rektorat Universitas Tanjungpura, Pontianak, Oktober, 2019. Foto Dok FB-Anshari Dimyati (Repro)

Oleh: Anshari Dimyati

Betul memang, Mohammad Hatta adalah seorang intelektual dan ideolog yang lahir di negara ini. Dengan membangun ideologi bangsa, Bung Hatta berjuang keras meletakkan dasar persatuan sebagai tujuan demokrasi dan pancasila kita.

Kita patut berterima kasih kepada Bung Hatta, yang melahirkan banyak gagasan, di masa awal kemerdekaan dan pembangunan.

Hatta berkata “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.”

Negarawan seperti Hatta tak berfikir tentang “saya” atau “kita”. Hatta masuk lebih dalam pada frasa “mereka”, rakyatnya. Kepeduliannya pada rakyat tak sekadar konsepsi dan aplikasi, melainkan konstruksi dan jati diri.
Hatta adalah pahlawan, yang setia berkorban. Bukan untuk dikenal namanya, tapi semata-mata membela cita-cita.

Hatta seorang yang jujur. Jujur membentangkan fakta yang ada. Hatta berkata apa adanya, dia ingat koleganya, Sultan Hamid II yang menorehkan tintanya untuk bangsa. Bubuhan tandatangan dalam KMB sebagai tanda kedaulatan didapatkan. Dan, lambang negara elang rajawali garuda pancasila. Itu untuk Indonesia, bukan lainnya.

Baca Juga:  Ketika Jalan Alit karena Corona

Kebijaksanaan Hatta mengungkap kebenaran, penting untuk masa depan. Penting untuk generasi yang akan datang. Bahwa kita tak pernah lupa dengan jasa. Jasa pahlawan kita.

Perjumpaan kami,
Pontianak, 20 Oktober 2019.
Bersama Prof. Dr. Meutia Hatta, anak sang proklamator kita, Bung Hatta.
Terima kasih atas undangannya, Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie
. 🙏
AD.


“…patut pula ditambahkan sebagai catatan bahwa lambang dengan tulisan yang mempunyai arti yang demikian mendalam itu, dipadukan menjadi seperti sekarang ini, dengan melalui sayembara waktu RIS dulu dan dilaksanakan oleh Menteri Priono, Banyak gambar yang masuk waktu itu, tetapi yang terbaik akhirnya ada dua buah, satu dari Muhammad Yamin dan yang satu lagi dari Sultan Hamid. Yang diterima oleh Pemerintah dan DPR adalah dari Sultan Hamid yakni seperti sekarang ini. Adapun dari Muhammad Yamin ditolak, karena disana ada gambar sinar-sinar matahari dan menampakan sedikit banyak disengaja atau tidak pengaruh Jepang. Saya berpendapat bahwa apa yang ada sekarang itu, seperti uraian saya tadi sudah tepat dan bernilai abadi bagi kehidupan negara dan bangsa Indonesia.”
Keterangan Drs. Mohammad Hatta dalam Buku “Bung Hatta Menjawab”, (Wawancara Muhammad Hatta dengan Z. Yasni) Cetakan Ketiga, (Jakarta: Gunung Agung, 1978), hal. 108. * (Dimuat di laman FB Anshari Dimyati, Oktober 2019)

Baca Juga:  Fena 2020 'Road to' Pahlawan Nasional

Written by Anshari Dimyati

IMG 20200704 WA0028

Kontributor teraju.id jadi Narasumber Webinar “New Normal” di Berlin

WhatsApp Image 2020 07 04 at 12.10.18

Prof Meutia Hatta–Putri Sang Proklamator akan Ikuti Webinar AGSI dengan Tema Sultan Hamid