Perjumpaan kami,
Pontianak, 20 Oktober 2019.
Bersama Prof. Dr. Meutia Hatta, anak sang proklamator kita, Bung Hatta.
Terima kasih atas undangannya, Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie
. 🙏
AD.
“…patut pula ditambahkan sebagai catatan bahwa lambang dengan tulisan yang mempunyai arti yang demikian mendalam itu, dipadukan menjadi seperti sekarang ini, dengan melalui sayembara waktu RIS dulu dan dilaksanakan oleh Menteri Priono, Banyak gambar yang masuk waktu itu, tetapi yang terbaik akhirnya ada dua buah, satu dari Muhammad Yamin dan yang satu lagi dari Sultan Hamid. Yang diterima oleh Pemerintah dan DPR adalah dari Sultan Hamid yakni seperti sekarang ini. Adapun dari Muhammad Yamin ditolak, karena disana ada gambar sinar-sinar matahari dan menampakan sedikit banyak disengaja atau tidak pengaruh Jepang. Saya berpendapat bahwa apa yang ada sekarang itu, seperti uraian saya tadi sudah tepat dan bernilai abadi bagi kehidupan negara dan bangsa Indonesia.”
Keterangan Drs. Mohammad Hatta dalam Buku “Bung Hatta Menjawab”, (Wawancara Muhammad Hatta dengan Z. Yasni) Cetakan Ketiga, (Jakarta: Gunung Agung, 1978), hal. 108. * (Dimuat di laman FB Anshari Dimyati, Oktober 2019)
