Opini

Kepahlawanan di Era Pasca-Kebenaran

Kepahlawanan di Era Pasca-Kebenaran

Beberapa pemain, memanfaatkan fenomena ini, dengan sengaja mengolah emosi masyarakat sasaran dengan membungkus berita-berita itu dengan kosa kata yang memancing emosi penerima, baik emosi persetujuan maupun emosi penolakan. Logika waktu pendek menyatakan “yang penting bungkusnya, bukan isinya” pasti digemari. Akibatnya, terjadi konflik yang berujung kekerasan.

Konflik semacam ini tidak mudah diredam karena fokus masalah pada emosi yang bersangkutan. Sehingga, hampir tidak mungkin diurai dengan nalar. Sisa ‘permusuhan wowo-jokowi’ di masa pemilu, misalnya, hingga kini masih terasa di sebagian asyarakat. Sementara, para peserta kontestan telah duduk bersama mengelola ‘roti’ Indonesia ini.

Suasana yang diwarnai oleh kebenaran emosional inilah yang disebut dengan ‘era pasca-kebenaran (nalar, pen!)’. Kebenaran nalar telah tertutup oleh kebenaran emosional.

Mengingat kebenaran emosioanl ini cenderung mengarak pada konflik yang berujung kekerasan, maka para penggiat pewarta yang terus menerus menyajikan informasi dengan tetap mengedepankan kebenaran faktual atau kebenaran nalar perlu dipresiasi. Mereka telah bertindak kepahlawan.

Selamat memperingati Hari Pahlawan.