in

Kerangka Akademik Sang Guru Pedalaman untuk Prof Anhar

IMG 20200703 WA0018
Foto repro YouTube

Oleh: Verry Firdaus*

Boleh dikatakan dalam case Sri Sultan Hamid II hampir semua kalangan di Kalbar menyayangkan ada yang memberikan penilaian tak layak mendapatkan gelar PAHLAWAN NASIONAL.

Termasuklah kalangan terpelajar / cendikiawan dalam pandangan nya baik lisan maupun tulisan.

Dari kelas guru besar sampailah guru kelas kampung seperti diriku ..

Ya nama juga cendikiawan tentunya memberikan pandangan yang sejujur2 nya, seobyektifitas mungkin.
Menyangkut tanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan anak Bangsa, lepas dari kepentingan kelompok / golongan..

Semuanya saling mengisi saling melengkapi bahwa usulan penetapan SULTAN HAMID II sebagai Pahlawan Nasional dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah / ilmu pengetahuan.

Berangkat dari disiplin ilmu masing2.
Misalnya Bapak Prof Hamid Darmadi (Tokoh Cendekiawan Dayak Nasional) dari disiplin ilmu Pendidikan Pancasila Kewarganeraan, Bapak Prof Syarif Ibrahim Alqadrie dari segi Ilmu Sosial Politik
Bang Anshari Dimyati dari segi Ilmu hukum,
Pak Turiman dari segi Ilmu Tata Negara, Bang Nur Iskandar dari segi jurnalistik, dan masih banyak lagi cendikiawan yang tak bise saya sebutkan satu per satu.

Baca Juga:  Presiden RI Ir H Joko Widodo - Hari Pers dan Lambang Negara

Nah ku dari segi Ilmu apa ??
Ku pernah belajar Ilmu Coding/Agorithma ..
Yang paling sering digunakan dasar utk bahasa pemograman.
Ilmu nih utk mengetahui input-process-data,
Nilai sifat data,
Silogisme, logic, tak logic data
dsb
Data terkumpul sebagai informasi

Misalnya tulisan ku di link ini

Dari pandangan Pak Prof Anhar Gonggong
Informasi yang di dapatkan
SH II tidak layak jadi PAHLAWAN NASIONAL karena, thn 1946 mendapatkan gelar Ajudan Istimewa dari Ratu Wilhelmina Belanda di saat Belanda menyerang Indonesia.

Maka kuharus mencari informasi nilai sama tapi bisa mendapatkan Pahlawan Nasional

Zaman sekarang mudah tinggal searching geogling jak ..

Akhirnya ketemu
Juli 1943, Soekarno mendapat Bintang Kekaisaran Ratna Suci dari Kaisar Hirohito Jepang, saat Jepang membantai Kalbar

Jadi Nilai datanya sama
1946 = Juli 1943
SH II = Soekarno
Ajudan Istimewa = Bintang Kekaisaran
Ratu Wilhelmina = Kaisar Hirohito
Belanda serang Indonesia = Jepang bantai Kalbar. (*Penulis adalah Guru Pedalaman Kalbar – SMPN 3 Belitang Hilir Sekadau,
Pemerhati Komunikasi Data Sistem Informasi Publik)

Baca Juga:  Memupuk Kemampuan Membangun Citra Diri

Written by teraju.id

WhatsApp Image 2020 07 03 at 07.44.40

Viva Historia: Asosiasi Guru Sejarah Seluruh Indonesia Bahas Etos Kejuangan Sultan Hamid

WhatsApp Image 2020 07 03 at 21.27.19

“Bird Box”