in

Ketika Jalan Alit karena Corona

jalan setapak


Oleh: Yusriadi

Pandemi covid-19 membawa dampak luas. Salah satu dampak itu dapat dilihat pada jalan di ujung Sungai Limau, Batu Ampar, Kubu Raya.

“Sejak corona, jalan jadi alit,” kata Arif, guru SMA Batu Ampar dalam percakapannya dengan saya, Jumat, 6/11/2020.

Sore itu kami sengaja melintasi jalan itu untuk melihat situasi. Sebelumnya saya diperlihatkan oleh seorang teman tentang jalan yang sempit –dengan tambahan informasi bahwa jalan ini alit atau bersemak karena lama tidak dilewati anak-anak sekolah. Selama hampir 8 bulan tidak ada pelintas tetap pyang melewati jalan ini.
Jalan lingkar utara pulau Batu Ampar ini terdapat di ujung dusun Sungai Limau. Pada masa sekolah normal, sebagian dari anak-anak Sungai Limau yang tidak menggunakan sepeda motor melalui jalan ini. Mereka berjalan kaki karena tidak ada kendaraan roda dua.

“Anak-anak SMP dan SMA yang tidak menggunakan sepeda motor, jalan kaki lewat jalan ini. Ini lebih dekat dan teduh,” kata Arif.

Begitulah setiap hari. Jumlah mereka yang berjalan kaki diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen dari keseluruhan anak Sungai Limau yang belajar di SMP dan SMA.

Baca Juga:  Kembali Ke Rusen Bersama Sabhan Rasyid

Oleh karena itu untuk memudahkan dan menyediakan kenyaman anak sekolah melintas, warga membersihkan semak perdu di kiri kanan jalan itu. Alhasil jalan itu biasanya lapang.

Kini setelah 8 bulan anak-anak tidak belajar ke sekolah, 8 bulan juga jalan ini tidak mereka lewati. Selama itu juga jalan ini tidak dipelihara.

Walhal, jalan ini pun alit. Semak perdu meninggi leluasa. Seperti yang terasa kemarin saat kami melintas, tumbuhan itu menghalangi motor yang melintas. Saat berjalan, ujung ranting dan daun, memukul-mukul ujung kaki dan tangan yang memegang stang. Memberi pesan kerinduan pada pelintas. Kapan anak sekolah di sekolah kembali? (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

wajidi sayadi

Optimis dan Produktif, Pikiran Positif, Berlapang Dada, dan Kebersamaan Sinergisitas

nur is

Kisah ‘Kelaheran’ Kru ABSJ