Last but not least, tugas kita adalah mewariskan segala sesuatu yang berguna. Tidak penting itu diakui atau tidak. Biarlah waktu yang akan mengujinya. Mengapa pikiran ini perlu ditegaskan karena hitam putih legacy kita, ia tidak dapat lepas dari konstruksi makna yang ada di tangan generasi penerus. Bagi generasi mendatang, antara pahlawan dan pecundang bisa bertukar tempat. Tergantung kepada kepentingan politik dan pikiran yang dominan pada masa tersebut. Jadi kalau kita membebani diri dengan pikiran-pikiran seperti ini, akan mengurangi esensi kebermaknaan dari hidup kita. Biarlah masa depan menjalankan perannya menilai sejarah, tugas kita melakukan peran-peran terbaik dan yang kita yakini kemanfaatan bagi banyak orang.
Pelajaran bagi kita sekarang bagaimana kita mewariskan pikiran, pengetahuan dan ketauladanan kepada generasi berikutnya. Dalam politik kita mewariskan peradaban politik yang demokratis dan bermartabat. Kemudian para politikus yang memiliki integritas agar dapat menjadi tauladan, dalam hal kejujuran, keberanian, intelektualitas dan komitmen bagi kepentingan rakyat.
Dalam konteks agama kita mewariskan pikiran-pikiran keagamaan yang bernas, egaliter, kosmopolit dan inklusif. Bukan cara pandang eksklusifitas dan mengutamakan prasangka dan kebencian antara satu dengan lainnya. Indah dan megahnya bangunan ibadah harus dapat menyampai amanat tentang legacy kasih sayang, saling memahami dan menghormati (toleran) dan membuka diri untuk berdialektika dan bekerjasama mengatasi segala persoalan kehidupan sosial kemasyarakatan.
