Opini

LAUDATO SI: Ajaran Paus Fransiskus (2015) tentang Lingkungan Hidup

LAUDATO SI:  Ajaran Paus Fransiskus (2015)  tentang Lingkungan Hidup
Dr Leo Sutrisno

Di pihak lain, kini berkembang paham relativisme yang memandang segala sesuatu menjadi tidak relevan jika tidak melayani kepentingan langsung manusia. Paham ini juga merupakan ‘penyakit’ yang mendorong manusia untuk mengeksploitasi sesamanya.

Tetapi, manusia tidak boleh menyerah pada keadaan. Juga, tidak boleh menolak untuk mempertanyakan lagi tentang tujuan dan makna dari segala sesuatu yang ada. Kita harus bergerak maju dalam sebuah revolusi budaya yang berani.

Katekismus Gereja Katolik mengingatkan bahwa campur tangan manusia terhadap ciptaan lain harus dibatasi. Seiring dengan kemajuan teknologi ini, kita perlu memikirkan kembali: tujuan, akibat, konteks, dan batas-batas etis aktivitas manusia berteknologi, khususnya tenologi yang beresiko tinggi, misalnya bioteknologi

Karena Allah mencipkatan manusia di ‘kebun’ yang diciptakan-Nya (Bumi ini), tidak hanya untuk meletarikannya tetapi juga untuk mengolahnya, maka kita perlu memiliki pandangan yang tepat tentang makna pekerjaan.

Bekerja merupakan bagian dari makna hidup di Bumi, khususnya, sebagai jalan hidup menuju pendewasaan dan perwujudan diri. Agar selalu tersedia lapangan pekerjaan, maka perlu memajukan ekonomi yang mendorong keragaman produksi dan kreativitas kewira-usahaan.

Kita perlu menyediakan ruang diskusi yang memungkinkan semua pihak mengungkapkan masalah-masalah mereka agar dihasilkan suatu keputusan yang menguntungkan semua pihak. Dalam berelasi antar-manusia, sebaiknya, dipertimbangkan juga prinsip-prinsip bijaksana yang dipakai ciptaan-ciptaan lain .