in

Locus Dilicti Hamid saat Peristiwa APRA Westerling adalah di Pontianak Bersama Moh Hatta

IMG 20200929 WA0010

Oleh: Nur Iskandar

Locus Dilicti Sultan Hamid pada 23 Januari saat Peristiwa Westerling terjadi di Bandung, Allahyarham di Pontianak sama Moh Hatta. Para ahli hukum perlu turun gunung melihat dan membaca serta meneliti ketidak-adilan yang disematkan kepada Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila serta tokoh pemersatu Soekarno-Hatta dan Negara Federasi (15 seluruh Nusantara-tergabung dalam BFO) sehingga sukses Konferensi Meja Bundar dengan ketokohan Hamid di Konferensi Inter Indonesia Pertama di Yogyakarta serta Konferensi Inter Indonesia Kedua di Jakarta.

Indonesia Merdeka 17/8/1945 diakui kedaulatannya oleh Belanda disusul negara-negara seluruh dunia sehingga Agresi Militer 1 dan 2 Belanda stop total dan Indonesia tidak lagi berkecamuk perang berdarah-darah.

Pemberontakan-pemberontakan di berbagai daerah adalah akibat Sultan Hamid “dipersekusi” secara tidak adil–hak-hak otonom daerah tidak diakui Negara. Padahal tujuannya sama: memakmurkan rakyat atas nama Indonesia–masing-masing berhaluan otonomi daerah vs kesatuan.

Dan kini NKRI adalah hibridisasi antara federal dan unitarial. Antara persatuan dan kesatuan. Di sini saya baru paham, kenapa tokoh-tokoh Bangsa kalau pidato dahulu di layar kaca hitam-putih selalu menyebutkan frasa, “Jaga persatuan dan kesatuan”. Rupanya adalah akomodasi unitarial dan federal. Persis seperti pesan Hamid melalui ide penyusunan Lambang Negara mengambil figur Elang Rajawali Garuda Pancasila di mana pada dadanya tergantung perisai Pancasila dengan sila ketiga itu bunyinya Persatuan Indonesia bukannya Kesatuan Indonesia. Juga diikat dengan seloka Bhinneka Tunggal Ika–Bhinneka (beraneka) Tunggal itu satu. Ika artinya Itu. Berarti Bhinneka Tunggal Ika arti harfiahnya beraneka itu satu, yakni Indonesia. *

Baca Juga:  Mewujudkan Kerukunan dalam Keberagaman

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

soekarno

Testimoni G30S-PKI

IMG 20200929 WA0018

Berharap Vaksinasi Covid-19 Bisa Segera Dilaksanakan