Opini

Masjid Seratus Paragraf

Masjid Seratus Paragraf

Beriman kepada Allah dan hari kemudian. Ini perspektif iman, ilmu, maka Masjid harus mendidik ummat. Ruh pendidikan disini.

Lalu melaksanakan shalat, shalat yang berjamaah, ada Imam dan Makmum, tunduk kepada Allah, berarti ini dimensi ubudiyyah, juga dimensi kejama’ahan. Kaum muslimin harus terorganisir untuk bergerak bersama. ekonomi nafasnya disini.

Lalu ada perintah Zakat, berarti masjid punya tugas menggerakkan potensi dana ummat dan menyalurkannya. Ini dimensi sosial.

Lalu tidak takut pada apapun kecuali kepada Allah. Ini fungsi kemandirian masjid. Dimensi kepemimpinan. Kita bahas lain waktu.

**

Munzalan Mubarakan ini adalah masjid yang memutuskan untuk memback up kebutuhan beras pondok-pondok santri yang membutuhkan. Biasanya santrinya digratiskan kiyainya atau bayar dengan iuran yang gak masuk akal. Murah banget. Operasionalnya berat.

Pondok-pondok ini hadir karena para kiyai merasakan bahwa santri yang mau belajar itu amanah, maka haram ditolak. Jadi diterima terus. Walau gak bisa bayar. Dikasih makan 3x sehari, dibelikan kitab, diasuh. Dahsyat memang.

Maka seorang Kiyai muda Luqmanul Hakim menggerakkan ummat. Singkat cerita, per bulan mei 2020 kemarin, sudah 71 ton tersalurkan ke 126 pondok.

Tiap bulan.
Sudah 82 kali pengiriman. Berarti 82 bulan bergerak.
Bukan cuma sekali.
Ke 126 pondok.
Bukan pas musim pilkada atau pemilu.
Ini tiap bulan…. Terus menerus.. Gak ada urusan sama musim politik.