Oleh: Nur Iskandar *
Hanya dalam hitungan jam, Pilgub DKI Jakarta putaran kedua sudah akan nampak hasilnya. Sementara pilkada serentak beberapa waktu silam telah nyata pula hasilnya. Bahkan kita sesungguhnya sudah kenyang dengan asam-garam pemilihan pemimpin kepala daerah. Oleh karena itu kita pasti punya pendapat dengan reason atau alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Sebagai jurnalis yang biasa meliput pemilihan kepala daerah saya berpendapat, bahwa sejak awal kontestasi pemilihan kepala daerah, setiap kepala pemilik suara sudah punya sosok idola dan pilihannya. Kalaupun ada kampanye dan hasut-menghasut, itu hanya dinamika yang tidak banyak mengubah pilihan dalam hati nurani seseorang pemilih, kecuali di dalam ancaman. Termasuk jika ditekan dengan uang yang menggiurkan.
Oleh karena itu menjadi penting bagi partai politik memutuskan satu calon yang kuat. Yakni mereka yang “layak jual”. Karena figur yang “marketable-lah” yang bisa mengeruk hati-nurani rakyat. Tentu lewat bukti nyata kepemimpinannya. Yang obral janji, tanpa bukti, tak berarti. Pasti lewat dan hanya buang-buang uang.
Bagaimana dengan prediksi Pilgub DKI putaran kedua antara Anies-Ahok (Basuki Cahaya Purnama)?
Pertama, bahwa dugaan pilgub satu putaran terbukti meleset. Posisi Ahok yang superior terpaut tipis dengan perolehan suara Anies yang mantan Rektor Paramadina, penggagas Indonesia Mengajar dan Mendikbud. Jika trend kenaikan suara Anies yang berpasangan dengan Sandiaga Uno berlanjut, maka seperti prediksi kebanyakan lembaga survey, Anies akan menang. Catatan: biasanya, survey tidak meleset jauh dengan angka sesungguhnya yang diumumkan KPU. Hal tersebut karena metode yang dipakai sangat ilmiah. Kecuali lembaga survey abal-abal yang bekerja atas pesanan dan keinginan menyenangkan sang pemesan.
