Opini

Mbah Sutarno

Mbah Sutarno
Dr Leo Sutrisno

Kontur jalan berkelok-kelok, menanjak dan menurun mengikuti kondisi alam perbukitan batu. Tak terbayangkan bagaimana keadaan jalan ini sekitar 55 tahun yang lalu ketika para transmigran baru saja didatangkan. Mungkin, jalan ini justru belum ada sama sekali.

Pada saat speedometer menunkkan bilangan 425, kami memasuki kampung yang dituju, perkampungan Trans A. Saya merasa seperti sedang pulang ke desa di Sabtu sore sewaktu kuliah dulu.

Dari kejauhan sayub-sayub mengikuti kembusan angin, terdengar bunyi irama gamelan yang memancar dari Toa. Aroma sayur lodeh pun menyusup hidung. Membuat isi perut menggeliat.

Di kanan kiri jalan yang kami lewati berjajar rumah-rumah semen dengan halaman yang bersih dari rerumputan, dan tampaknya juga disapu pagi sore. Selain pohon belinjo, berbagai pohon buah-buahan seperti langsat, rambutan, nangka terlihat di setiap pekarangan. Tak terkecali rumpun sere serta kemangi. Di beberapa pekarangan, deretan pohon ubi kayu tertata rapi di kanan-kiri ‘lorong’ penghubung rumah dan jalan.

Tidak sulit menemukan rumah mbah Sutarno. Semua orang yang saya temui nengenalnya, bahkan anak-anak pun juga. Ketika kami berjalan menuju ke rumahnya, banyak anak-anak yang menemani kami. Mereka berceloceh membicarakan mbah Sutarno.