Opini

Mbah Sutarno

Mbah Sutarno
Dr Leo Sutrisno

Saya masuk ke dalam rumah. Jenasah Mbah Tarno terbaring di tengah ruang tamu, membujur arah utara-selatan, beralaskan tikar pandan. Di dekat kepala terpasang dua batang lilin yang belum dinyalakan. Salah satu di antaranya adalah lilin babtisnya.

Sambil menunggu acara pemakaman, kami, saya dan perawat yang mengantar saya, bergabung dengan para ibu pelayat. Mereka semua membicarakan apa yang telah dilakukan Mbah Tarno.

“Mbahno ini orang kuat dan baik hati, lho” kata seorang ibu setengah yang duduk di sebelah kiri saya. Lalu lanjutnya.

“Yu Jum ingat? Ketika kita masih kecil-kecil, tiap hari ia menggendong kelapa setenggok penuh dibawa ke pasar. Kita, setiap siang seperti ini siap-siap main di jalan. Menunggu oleh-olehnya”

“Iya, bu. Ngomong-omong, saya sampai sekarang tidak tahu suaminya dikubur dimana” kata ibu yang lain. Tentu tak perlu sambung menyambung yang dibicarakan.

“Oh, punya suami ya?. Aku sangka perawan ‘thing-thing’” sahut ibu sebelah sana.

“Tidak! Bapakku kawan suaminya, sama-sama tentara aktif dari Diponegoro. Ia mati tertembak tentara Gurkha. Jasadnya mereka buang ke tengah laut” Sambung seorang ibu lain yang duduk di pojok.

“Kasihan, ya?” Timpal ibu lain.

“Kita banyak berhutang budi, lho” Sambung ibu lain.