Opini

Mbah Sutarno

Mbah Sutarno
Dr Leo Sutrisno

“Rumah Mbahno tak jauh dari sini, Dokter!” Kata salah seorang anak.
“Sana, Dokter!” kata anak yang lain sambil mengarahkan ibu jari kanannya ke suatu tempat.

“Mbahno, orangnya baik, Dokter” kata yang lain lagi.
“Benarkah?”
“Benar, Dokter. Biasanya Mbahno, jam segini, pulang dari pasar. Entah kok belum lewat”
“Mbahno sakit!” Kata yang lain

“Dimana pasar?” Tanya perawat yang bersamaku.
“Ujung sana, Bu, perempatan pertama tadi belok kiri. Pasar di trans B sana” Kata anak tadi sambil memoncongkan bibir mengarah ke lokasi pasar.
“Kami tadi menunggu Mbahno. Ternyata malah panggil Dokter” Sela anak yang lain lagi.
“Kenapa kalian menunggu Mbahno?”
“Minta bagi oleh-oleh, Dokter. Mbah selalu bawakan oleh-oleh”
“Untuk kalian semua?!”
“Ya, Dokter!” Jawab mereka koor.

Sampai di rumah Mbah Sutarno, saya lihat banyak orang berkumpul. Beberapa orang sedang mengeluarkan meja kursi dari dalam rumah.

Seorang lelaki setengah baya mendekati saya. sambil menjabat tangan saya ia berkata, “Maaf, Dokter. Saya Manto. Ketua RT sini. Kami tadi es-em-es ke Puskesmas. Tetapi, katanya Dokter sudah ke luar sejam lalu. Karena itu, kami tidak lagi menghubungi Dokter. Tadi malam, sekitar pukul 02:00 Mbahno berpulang”

“Oohh, Saya tengok Simbah ya, Boleh?!” Ia menganguk.