Opini

Melihat West Borneo Abad XVIII di Leiden

Melihat West Borneo Abad XVIII di Leiden

Di kota kanal yang tenang ini, saya dan Istri ditemani Johan, Laura dan Fionna, sahabat-sahabat saya yang menetap di Amsterdam, kami menelusuri manuskrip-manuskrip tua, katalog usang, dan tersandar di ruang baca yang nyaris sunyi meski tak sedikit orang tekun menghadap buku bacaan.

Melihat West Borneo Abad XVIII di Leiden

Leiden Belanda adalah kota universitas tertua yang menyimpan banyak arsip kolonial dari berbagai penjuru dunia. Tak terkecuali Indonesia.

Di ruang koleksi khusus, seorang pustakawan menyerahkan manuskrip abad XVIII kepadaku, sambil dia berkata dalam bahasa Holland yang teratur, “Anda orang pertama di abad ini yang membuka naskah West Borneo sejak puluhan tahun terakhir ini”, ungkapnya.

Mendadak ruangan ini terasa berbeda. Manuskrip yang sekian lama terkunci, kini berada di tanganku. Seakan sang waktu membuka pintunya perlahan, gumamku dalam benak.

Bagaimana rasanya menyentuh warisan West Borneo, tentang Pontianak, Landak, Mempawah, Tayan, Sanggau dan lainnya ini yang lebih dulu dikenal orang asing. Sementara, banyak anak negerinya sendiri tak tahu “ia masih hidup”, kesanku.

Selembar demi selembar manuskrif itu tentunya bukan sekadar kertas tua dan usang. Bagi saya, ia adalah suara masa lalu yang menunggu dan menanti untuk didengar dan bicarakan kembali di tanah asalnya.

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *