in

Memahami Macam – Macam Takdir

persimpangan taqdir

Oleh: Wajidi Sayadi

Sejak merebak wabah virus Corona dengan segala korbannya menjadi ancaman bencana kemanusiaan, banyak orang bicara masalah takdir. Sebagaimana postingan beberapa hari lalu saya menulis Takdir Corona antara Usaha dan Doa, maka kali ini ingin menyambung sedikit mengenai masalah Takdir. Dengan harapan tidak berlebih-lebihan dalam memahami dan menyikapi takdir, sehingga muncul tawakkal yang berlebih-lebihan.

Dalam aqidah Islam, Takdir itu ada dua macam:

  1. Takdir Mu’allaq.
    Maksudnya takdir, ketentuan Allah yang bisa berubah sesuai dengan usaha manusia itu sendiri.
  2. Takdir Mubram.
    Maksudnya, takdir, ketentuan Allah yang manusia hanya menerima secara terpaksa, manusia tak punya kemampuan untuk mengubah apalagi menolaknya.

Pembagian dan macam-macam takdir seperti ini didasarkan pada firman Allah dalam al-Qur’an:
يَمْحُوا اللهُ ما يَشاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتابِ
Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Umm al-Kitab (Lauh Mahfuzh). (QS. ar-Ra’d, 13: 39).

Allah menghapus apa yang sudah ditetapkan, maksudnya mengubah dan menghapus takdir mu’allaq.
Allah menetapkan apa yang sudah ditetapkan, maksudnya tidak mengubah ketetapan takdir mubram.

Takdir Mu’allaq yang bisa diubah oleh manusia inilah yang terkait dengan sikap Khalifah Umar bin Khattab yang mengatakan kita “lari dari satu takdir menuju takdir lainnya”.

Khalifah Umar bin Khathab pernah berencana melakukan kunjungan ke Suriah. Tiba-tiba terdengar berita bahwa di daerah Suriah sedang terjadi wabah penyakit menular. Lalu, Umar membatalkan rencana kunjungannya itu.

Para sahabat banyak yang protes atas sikap Umar. ”Apakah Anda hendak lari dari takdir Allah?” tanya mereka. Umar menjawab: ”Aku lari dari takdir Allah menuju ke takdir Allah yang lain.”

Tidak ada yang meragukan tingkat keyakinan akidah Umar bin Khattab. Namun, Beliau tetap berusaha menghindari penularan wabah virus penyakit dengan cara tidak jadi datang ke Suriah.

Bagi orang-orang tertentu, kadangkala melihat bahwa Umar sepertinya kurang tawakkal, kurang percaya terhadap takdir Allah.

Berusaha menghindari penyakit itu juga takdir Allah. Inilah namanya takdir mu’allaq.

Sikap dan usaha Khalifah Umar bin Khattab menghindari atau mencegah penularan wabah virus ini sebenarnya adalah menjalankan perintah Rasulullah SAW. Beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

Apabila kamu mendengar berita wabah virus menjangkiti suatu negeri, maka janganlah ke sana, tapi jika telah terjadi wabah virus di suatu negeri dan kamu berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar lari dari padanya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Auf).

Berdasarkan hadis dan sikap Khalifah Umar bin Khattab ini menunjukkan bahwa sakit dan penyakit serta apa saja yang merupakan penyebabnya adalah bagian takdir mu’allaq, takdir yang bisa berubah sesuai usaha manusia itu sendiri.

Usaha manusia dengan cara preventif, menghindari, mencegah atau isolasi terutama bagi pengidapnya agar tidak semakin meluas penularannya. Begitu juga berusaha mengobati, bagi mereka yang sudah terserang penyakit, diiringi dengan kekuatan doa.

Orang tua atau guru ketika anak-anaknya mendapat nilai raport merah atau tidak lulus ujian, tidak layak mengatakan, “Sabar lah nak ya, ini memang sudah takdirmu raport merah, sudah takdirmu tidak lulus.”

Saya kira ini kurang tepat dan kurang bijak, sebab pintar dan bodoh, lulus dan tidak lulus dalam ujian termasuk dalam kategori takdir Mu’allaq. Artinya bisa berubah nilai dan kelulusan serta prestasi sangat dipengaruhi oleh usaha dan keseriusan belajar diiringi dengan doa.

Orang tua dan guru seharusnya memberi motivasi lebih tinggi agar belajar terus dan maksimal diiringi dengan doa. Begitu masalah rezeki dan jodoh.

Ada seseorang yang tidak tahu berenang sama sekali, lalu berdoa minta selamat dan pasrah sepenuhnya bahwa hidup dan mati adalah takdir di tangan Allah. Setelah itu, ia loncat ke dalam sungai yang dalam dan airnya deras.

Apa yang terjadi? yang bersangkutan mati tenggelam dan hanyut, karena tidak bisa berenang.

Ini contoh tawakkal berlebih-lebihan, keliru memahami takdir. Semangat beragamanya tinggi, tapi pengetahuan agamanya rendah. Lalu ia dikatakan, ini sudah takdir Allah. Padahal, Allah mengingatkan dalam al-Qur’an:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ
Kebaikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. (QS. an-Nisa’, 4: 79).

Seorang yang tidak tahu berenang, loncat ke dalam sungai hanya bermodalkan tawakkal dan takdir. Ini suatu kesalahan memahami takdir dan tawakkal.

Seharusnya, dia berusaha belajar dulu cara berenang, kalau sudah pintar, baru masuk ke dalam sungai atau kolam yang dalam.

Nabi SAW. pernah menegur seorang pemilik unta, Beliau bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
Ikat dulu untanya, dan kemudian bertawakkal, pasrah kepada Allah. (HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik).

Semoga Bermanfaat.

Pontianak, 19 Maret 2020

Berbagi itu indah:

Written by teraju.id

Sok Tawakkal, Semangat Beragama Tinggi, Pengetahuan Agama Rendah

Neirobi-Hamburg via Paris di tengah Lockdown Corona “Banyak yang Harus Disyukuri”