Ketiga: jambu ini hasil pohon sendiri di samping rumahnya, di komplek perumahan. Bukan beli di pasar. Saya kira ini sangat-sangat istimewa, karena tidak banyak orang yang berkesempatan panen seperti itu.
Orang kita di Pontianak, apalagi di kompleks, tidak semuanya terbiasa menanam tanaman produktif di sekitar rumahnya. Masih mau mereka menanam bunga yang memerlukan perawatan, atau pohon pucuk merah yang rimbun.
Bolehlah coba-coba dihitung: berapa rumah yang ada pohon buah di halamannya? Bandingkan juga dengan rumah yang ada pohon bunga, dan rumah yang kosong melompok.
Padahal, menanam pohon buah di samping rumah itu bisa menjadi produktif. Daun dan rantingnya bisa menjadi penaung dari panas. Lingkungan menjadi teduh.
Pada musimnya, buah bisa dipanen. Entah-entah hasil panennya bisa dibagi-bagi dan menjadi tambahan amal penanamnya. Tinggal atau terpulang pada masing-masing orang mau memilih menanam apa: mangga, jambu, rambutan, lengkeng, matoa, nangka, pepaya, anggur, dll…
Seingat saya, Walikota Pontianak sebelum ini, Sutarmidji, pernah mendorong penanaman pohon produktif di sini. Sekda Provinsi sebelum ini, M. Zeet Hamdy juga begitu.
Semoga tulisan pendek dan remeh temeh ini bisa mengingatkan kembali soal ini. Yuk, bertanam tanaman produktif di sekitar rumah. (*)
