Oleh: Yusriadi
Beberapa hari lalu kami sekeluarga mendapatkan bingkisan spesial dari seorang sahabat: buah jambu bol. Buah itu terasa sangat istimewa mengiringi makan malam usai puasa.
Pertama: Jambu ini pemberian seorang sahabat. Pemberian yang entah ke berapa… tidak dapat dihitung. Kebaikan yang ke berapa, juga tak dapat dinilai. Melimpah sudah… Kami tak dapat membalasnya, kecuali doa, semoga semuanya menjadi amal beliau dan keluarganya kelak. Barakallah.
Kedua: jambu itu merah-ranum. Tampilannya lebih gelap (bangkam) dibandingkan jambu yang dijual di pasar, pada musimnya. Tentu, kalau bukan dari pohon begini, amat jarang kita bisa mendapatkan jambu seperti ini.
“Jambunya memang masak betul,” kata orang rumah.
Makanya, rasa jambu ini berbeda dibandingkan jambu yang dijual di pasar itu yang biasanya agak masam dan bergetah. Jambu bol di pasar, bisa membuat kita meringis menggigitnya.
Jambu ini terasa lebih manis-berair. Bisa langsung digigit usai dipotong-potong. Tak perlu tambahan sambal agar bisa dinikmati.
Saya sempat berpikir jambu ini lain jenisnya dibandingkan jambu bol yang biasa. Namun, sahabat pemilik memberi tahu, jenisnya sama saja dengan yang dijual di pasar. Entahlah, kalau komposisi tanah tempat tumbuh yang membuat rasanya jadi berbeda.
