Jadi, dalam situasi sekarang ini, saya pikir, lebih baik diam saja dan mendengar. Prinsipnya, ‘Diam itu emas’.
Ternyata, pilihan sikap saya itu benar. Dalam percakapan kami selanjutnya, banyak hal yang terungkap berdasarkan pengalaman lapangan beliau. Sebagai orang dagang, yang berkali-kali mengatakan tidak suka politik — setahu saya beliau memang tidak pernah ikut dalam kegiatan politik praktis—memiliki banyak informasi yang baru.
Beliau membandingkan susah-senangnya bergerak. Susah senangnya merentasi jalan ke pedalaman. Susah senangnya berdagang. Susah senangnya mendapatkan barang. Susah senangnya berurusan.
Beliau bandingkan prosedur dan pelaksanaannya. Beliau bandingkan perasaan yang timbul dan dirasakan.
Akhirnya, beliau berkesimpulan, “Sekarang tuh, kami, saya-lah, nyaman-nyaman sakit”. Di sana sini ada nyaman atau enak dan disukai, tetapi di sana juga ada tidak nyaman atau sakit.
Enak dan tidak enak itu merupakan konsekuensi dari apa pun kebijakan. Beliau mafhum, kebijakan tertentu diambil pada level tertentu. Ada level presiden, gubernur, walikota-bupati, bahkan ada level RT. Beliau juga menyadari, apa yang dikeluhkan bukan berarti salah kebijakan. Untuk alasan tertentu, seperti kebijakan tidak boleh pungli, dimaksudkan agar tata kehidupan menjadi lebih baik.
Lalu, akhirnya, berkaitan dengan pertanyaan di awal, siapa yang akan dipilih, dengan gaya khasnya beliau meyakini calon tertentu –disebutkan namanya, akan menang.
