Oleh: Yusriadi
Saya sering ditanya orang, “Siapa calon yang ‘kita’ pilih dalam Pemilu dan Pilpres 2019 ini?” Sering juga saya “ditembak”, “Kamu sih… sudah pasti pilih calon nomor….”
Termasuk Sabtu (9/2) kemarin. Saat konyen –kunjungan lebaran Imlek ke rumah keluarga, saya juga mendapat pertanyaan yang kurang lebih sama.
Saya dipancing dengan pertanyaan, “Mana enak Yus, zaman SBY atau zaman Jokowi?”
Tentu, sebagai pribadi dan jamiyah saya sudah punya pilihan. Tetapi, saya tidak ingin menyampaikan pilihan saya pada orang yang belum saya tahu posisinya. Apalagi dalam suasana lebaran.
Jika pilihannya sama, mungkin tidak ada masalah. Pilihan sama akan membuat suasana menjadi lebih baik. Tetapi, kalau pilihan berbeda, suasana pertemuan mungkin akan lain. Paling tidak, suasana akan sedikit rusak karena masing-masing mungkin akan mempertahankan argumentasi atas pilihan, dan mungkin saja pihak yang lain berkeberatan atau tidak setuju dengan argumentasi itu.
Lihat saja apa yang terjadi di ruang publik dan media sosial hari ini. Silang pendapat meruncing menjadi saling serang. Parahnya, serangan-serangan sudah masuk ke wilayah pribadi, yang di sana ada ghibah dan fitnah. Dosa-dosa sepertinya sudah tidak dipikirkan lagi oleh mereka-mereka itu. Padahal persoalannya sederhana: pilihan berbeda dan diberitahukan plus mengajak orang lain –tersurat atau pun tersirat, untuk memilih yang sama.
