Opini

Mengapa Bahasa Sambas Masih Hidup?

Mengapa Bahasa Sambas Masih Hidup?

Saya membaca tulisan tentang hilangnya ratusan bahasa daerah beberapa waktu lalu. Katanya, dari 718 bahasa daerah, sekitar 200 di antaranya telah lenyap. Tulisan itu ditulis oleh Rosadi Jamani, seorang dosen di UNU Pontianak yang saban hari aktif menulis di Facebook. Saya termasuk yang cukup sering menikmati tulisannya. Harus saya akui, beliau memang lihai merangkai kata.

Sekitar tujuh tahun silam, saya pernah duduk satu ruangan dalam forum pelatihan jurnalistik bersamanya. Dari situ, saya belajar banyak tentang literasi—bukan hanya soal menulis, tapi juga cara melihat.

Selepas membaca tulisannya tentang bahasa daerah, saya teringat satu pengalaman pribadi. Dulu, ketika saya merantau ke ibu kota provinsi untuk kuliah, ada satu hal yang menarik. Teman-teman sesama orang Sambas tetap kental menggunakan Melayu Sambas. Bahkan tanpa bertanya, kita bisa langsung tahu asal seseorang dari logat dan intonasinya. Bahasa itu begitu khas. Kadang malah jadi bahan candaan. Tapi justru di situlah letak kekuatannya—ia dikenal, ia hidup.

Saya bahkan punya teman yang presentasi di kelas menggunakan Melayu Sambas. Dan entah bagaimana, itu tetap bisa dimaklumi. Sebagian besar teman sekelas masih bisa memahami.

Dari pengalaman itu, saya mulai bertanya:
mengapa bahasa ini bisa begitu lekat?