Setidaknya, ada dua hal yang saya rasakan.
Pertama, di sekolah—setidaknya dulu—proses belajar tidak sepenuhnya kaku dengan bahasa Indonesia. Bahasa ibu tetap hadir dalam keseharian. Ia tidak dilarang, tidak juga dianggap keliru.
Kedua, ada semacam “tekanan sosial” yang unik. Menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari justru kadang dianggap aneh—seolah ingin terlihat lebih tinggi, lebih rapi, bahkan sedikit “belagu”.
Mungkin terdengar sepele. Tapi efeknya besar.
Bahasa ibu akhirnya bukan hanya alat komunikasi, tapi juga identitas yang dijaga bersama—bahkan tanpa disadari. Namun di sisi lain, ada hal yang juga perlu diakui.
Meskipun bahasa Melayu Sambas tidak hilang, banyak generasi muda yang mulai tidak mengenal istilah-istilah lama yang dulu begitu kental. Kosakata yang sarat makna itu kini lebih banyak tersimpan pada para sepuh.
Dari sini saya mulai melihat, mungkin benar bahwa bahasa bisa hilang. Tapi ia tidak hilang secara tiba-tiba. Ia hilang ketika tidak lagi digunakan dalam keseharian. Ketika ia hanya tersisa di panggung, di lomba, atau dalam acara-acara formal.
Sementara dalam percakapan biasa, kita mulai merasa lebih nyaman menjadi orang lain. Saya tidak sedang mengatakan mana yang benar atau salah. Ini hanya pengamatan sederhana dari seseorang yang lahir dan besar di tengah Melayu Sambas.
