Pertama, Ridha terhadap Syariat Allah, yakni kita menerima dan menjalankan syariat-Nya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketika tiba waktu shalat, kita, waktu puasa, kita puasa, bagi mampu keluarkan zakat, sedekah, dan infak.
Semakin tinggi kesadaran menjalankan kewajiban dan ibadah-ibadah lainnya, serta menghindari larangan agama, maka semakin terbuka lebar peluang untuk menggapai ridha Allah.
Syariat Allah merupakan tangga menuju ridha Allah.
Kedua, Ridha terhadap takdir Allah, yakni rela menerima semua apa yang Allah sudah takdirkan. Tidak boleh sedikitpun ada rasa protes dan kebencian terhadap takdir Allah. Allah SWT. berfirman:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَه
Yang membuat sebaik-baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan. (QS. as-Sajadah, 32: 7).
Menerima takdir Allah sambil berusaha dan berdoa. Sebagaimana Rasulullah SAW. mengingatkan:
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ
Tidak ada yang bisa menolak (merubah) takdir dengan doa dan tidak ada yang bisa menambah kecuali kebaikan. (HR. Tirmidzi dari Tsauban asisten Nabi SAW.).
