Opini

Menikmati Kota Rotterdam, Mengunjungi Kubuswoning

Menikmati Kota Rotterdam, Mengunjungi Kubuswoning

Saya jadi ingat yang diceritakan sahabat lain saya, Johan, sewaktu kami duduk di pinggir Kanal Witte Singel seminggu sebelum ini. Kata dia, Rotterdam dibon Jerman pada 1940, pada awal Perang Dunia ke dua. Pusat kota hancur lebur, cuma ada beberapa bangunan tua yang bertahan.

Stadhuis atau balaikota, serta Schielandhuis dan Erasmushuis, keduanya dijadikan museum sekarang. Baru tahun 1945 Rotterdam dibangun kembali. Makanya, kata Johan, arsitektur kota ini cenderung modern.

Di hadapan de Doelen, salah satu gedung konser di Rotterdam, terdapat lampu bulat warna merah bergambar api yang ditanam di sepanjang jalan. Kata Fridus, pemerintah Kota Rotterdam menanam lampu-lampu ini sebagai garis brandgrens, batas api, untuk menandai wilayah kota yang kena bom. Lampu-lampu brandgrens ini melingkari pusat Kota Rotterdam, dari Stasiun Rotterdam Centraal sampai ke Blaak, tempat rumah kubus, dan jembatan Erasmus.

Dari gedung de Doelen di Schouwburgplein, kami melongok Stadhuis. Gedung balai kota yang dibangun sejak 1914 sampai 1920 itu masih berdiri tegak, tidak kehilangan keanggunan di tengah bangunan-bangunan baru yang mengelilinginya.

“Stadhuis Rotterdam dibangun di atas tanah yang luasnya sekitar satu hektar. Di tengah-tengahnya, terdapat binnenterrein khas Belanda, semacam taman atau teras terbuka di dalam bangunan”, kata Fridus lagi.