Gedung itu menjadi pusat administrasi Kota Rotterdam. Pengeboman Rotterdam sebenarnya bisa dicegah, kata Johan minggu lalu, kalau saja pihak Belanda tidak mempermasalahkan “detail konyol”.
Pada 14 Mei 1940 pukul 10.30 pagi, di bawah pemerintahan Nazi Adolf Hitler, Jerman mengirimkan ultimatum agar Belanda menyerahkan Kota Rotterdam. Dalan surat peringatan itu ditulis, jika Belanda tidak merespon ultimatum sampai pukul 12.30 siang, Rotterdam akan dibom satu jam kemudian.
Apa yang dilakukan pejabat Belanda yang menerima ultimatum itu? Karena menurut mereka tidak jelas siapa pejabat yang mengultimatum, Belanda mengembalikan surat peringatan itu ke pihak Jerman. Lengkap dengan catatan bahwa surat itu kurang reami. Jerman harus melengkapinya dengan nama dan pangkat pejabat yang mengeluarkan ultimatum, plus stempel resmi lembaga negara tempatnya bernaung. Dan, surat balasan konyol itu baru diterima Jerman pukul 12.20 sepuluh menit menjelang tenggat.
Kata Johan, kalau soal birokrasi, Belanda jagonya. Bahkan, di tengah perang, tanda tangan pejabat dan cap lembaga negara harus lengkap.
Sambil kami menikmati suasana Rotterdam, Fridus menceritakan, setelah menerima surat itu, Jerman memperbaiki suratnya dan mengundur tenggat sampai pukul 16.20. Sayangnya, kata pria jangkung berhidung mancung itu, komunikasi antara pejabat Jerman dan pasukan angkatan udara yang bertugas mengebom tidak berjalan lancar karena gelombang radio terganggu.
