Opini

Meraut Pesan Peradaban via Puisi dan Pantun

Meraut Pesan Peradaban via Puisi dan Pantun

Berinteraksi dengan komunitas puisi saya mendalami realitas berujung teks kata kata yang bernyawa menyiratkan pesan sangat dalam adalah rautan peradaban.

Ditambah dari liputan pers yang melaporkan aneka peristiwa pula saya mengenal Wiji Thukul dengan teks puisi lawasnya nan sangat pamungkas di kalangan pegiat pers kampus adalah: Hanya satu kata: Lawan!

Kekinian saya aktif sebagai Atelian. Asosiasi Tradisi Lisan. ATL.

Berada di atmosfer orang orang pintar dan cerdas lewat gema sastra dan budaya level nasional dan internasional. Di sana saya berguru dengan KH Djawawi Imron dan Prof Mujizah, juga Prof Dr Chye Retty Isnendes. Sosok yang dengan telaten mau menjawab berbagai pertanyaan seputar sastra dan budaya. Pakar pakar di bidangnya dan menekuni relung akademiknya dengan perasaan cinta sastra yang halus dan lembut selembut sutera dengan benang benang emas.

Di sana juga ada Bunda Ninuk Kleden. Bu Isworo. Bu Kartini. Dan masih banyak lagi…

Meraut Pesan Peradaban via Puisi dan Pantun.1

Ternyata puisi erat kaitannya dengan pantun. Kalau puisi adalah sastra modern dengan metafora dan rima, maka pantun adalah filsafat hidup Melayu yang turun temurun menjadi lingua frangka dan Bahasa Persatuan Republik Indonesia. Ia menjadi bahasa pergaulan, bahasa dagang, pendidikan hingga simbol politik.