Opini

Meraut Pesan Peradaban via Puisi dan Pantun

Meraut Pesan Peradaban via Puisi dan Pantun

Pantun sastrawi sekali. Apa-apa saja dilantunkan. Dipantunkan. Baik sedih maupun bahagia. Suka maupun duka. Ada asa asih dan asuh membentuk budipekerti dan akhlakul karimah. Character building yang sangat penting.

Ketika saya masuk final LKTI di Unsoed Purwokerto dengan judul Pemanfaatan Mikoriza Vescular Arbuscular untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Lahan Gambut ayah saya berpesan sebuah pantun:

Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik Gunung Angsa Dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik tuan terkenang jua

Ndilalah saya diminta mewakili finalis untuk kesan dan pesan. Kebetulan kami juga juara 1 saat itu. Maka pantun di atas pecah membuncah. Membuat tepuk tangan mengembang.

Ternyata pantun disambut antusias di Jateng. Saya suka. Sejak saat 1993 itu, pantun dikais lagi secara arkais. Dibaca. Diteliti. DIpelajari.

Ternyata kehidupan kami syarat pantun. Hampir setiap upacara akad nikah orang-orang berpantun. Juga ceramah agama. Apalagi sambutan petinggi negeri. Jadi pantun sudah melekat erat. Mendarah daging.

Di era 1980 kami belajar dengan Ustadz Haji Asfiah Mahyus yang populer dengan pantun:

Jalan jalan ke Kota Mekah
Jangan lupa membeli kurma
Kalau tuan mau berkah
Hendaknya patuh pada ayah-bunda