Darinya kami mendapat insight bahwa pantun dan puisi akan kekal abadi seperti Postulat Hang Tuah “Takkan Melayu hilang ditelan zaman….” Tentu dengan satu catatan, jika filsafat sastra sarat pesan universal sosial, budaya hingga politik menjadi api nan tak kunjung padam.
Bahwa lewat rasa yang terdalam kita terhubung kepada Tuhan dengan tugas kekhalifahan. Leadership. Kepemimpinan dengan mengingatkan yang kaya menolong yang papa. Meruwat lokalitas dan nasionalitas serta internasionalitas lewat human interest. Sentuhan hatinurani dan akal budi yang merawat alam agar hijau lestari dan aman diwariskan kepada anak cucu. Begitulah pantun dan puisi berperan dalam meraut peradaban.
Kini kami berkolaborasi dengan generasi muda. Ada Dr Rendra Setyadiharja dan Yoan di Kepri. Teman teman beruas di Padang. Terutama Atelian serta komunitas seni sastra puisi, pantun hingga berdendang dalam Tundang. Hingga berdendang bersama jawara nasional nasyid TnG Tan Shah Khumainy dan Rhoma Iramanya Malaysia Ayahanda Roslan Madun.
Di bulan Ramadhan yang penuh dengan berkah serta ampunan ini, perkenankan saya sebagai mursyid mengucapkan selaksa terimakasih kepada para guru di seantero negeri. Semoga ilmu dan pengajarannya menjadi amal jariyah. Alfatihah washallu ‘Alan Nabi.
Kulat banir kena peluh
Kulat kiara kena pukat
Bulat air karena buluh
Bulat suara karena mufakat
