Oleh: Anshari Dimyati*
Generasi milenial adalah generasi kini yang memegang kunci peradaban yang akan datang. Kita patut memastikan arah interaksi, lintas generasi tersambung dengan tepat. Tentu tanpa melipat akses informasi yang benar kepada mereka yang melanjutkan estafet kepemimpinan kita di dunia.
Generas milenial, bukan generasi dangkal. Walaupun tak sedikit bergumam tentang aktivitas mereka yang melulu berkait dengan gadget, video games, youtube(ism), bergantung pada dunia digital, dan segudang gerak langkah yang dianggap buruk oleh para generasi sebelumnya. Alih-alih vonis sebelah mata itu ditujukan ke mereka, produktivitas “barang” baru kemudian menyebabkan kita lebih mudah menggapai dunia.
Lihat saja konten-konten yang diciptakan oleh para youtuber, iklan anak muda dengan bentuk kreativitasnya, persaingan penciptaan aplikasi agar orang-orang lebih nyaman dalam bekerja, dan banyak lainnya produk yang diciptakan oleh generasi ini.
Namun memang, generasi milenial punya cara dan pola sendiri dalam berkomunikasi. Barangkali sebagian dari mereka tak peka akan sejarah bangsa yang tercatat dalam kitab-kitab lama. Mereka lebih memilih merekam jejak lawas lewat dunia maya, lini masa.
Milenial punya kehendak positif untuk bergerak maju dengan caranya sendiri. Maka dari itu, cerita atas fakta sejarah bangsa, patut disampaikan dengan apa adanya. Apalagi jejak digital begitu tajam dalam pembuktian.
