Pada usia yang lebih tinggi, anak-anak mulai belajar isin. Isin berati: malu, malu-malu, atau merasa bersalah. Anak-anak diajari sikap malu kepada orang lain. Pada mulanya malu terhadap keluarga serumah yang senior. Kemudian, berkembang malu terhadap tetangga, dan akhirnya malu terhdap masyarakat luas. Karena itu, sering dijumpai orang Jawa yang terlihat malu-malu dalam berbagai pertemuan.
Akhirnya, anak-anak Jawa dididik agar memiliki rasa sungkan. Sungkan merupakan rasa malu jika berhadapan dengan senior. Dengan demikian, sungkan bukan sesuatu yang negatif, tetapi lebih berupa perwujudan rasa hormat kepada yang lebih senior atau atasannya.
Wedi, isin, sungkan merupakan suatu kesinambungan perasaan-perasaan yang berfungsi untuk memberi dukungan-dukungan psikologis terhadap tuntutan-tuntutan sikap hormat. Dengan begiti yang bersangkutan terdorong untuk selalu menaruh hormat kepada orang lain.
Mengerti akan wedi, isin dan sungkan menempatkan seseorang pada pengetahuan bagaimana membawa diri dan bertutur kata ketika berinteraksi dengan yang lain. Ke-alpha-an akan itu akan disebut ngisin-isini/memalukan. Seperti yang disebutkan oleh pujangga Mangkunegoro IV, gonyak-ganyuk nglelingsemi.
Mangga kaoncèkana
21-2-2019, Pakem Tegal, Yogya
Nuwun
