“Jangan khawatir Barata, bahwa kebebasan akan menimbulkan huru-hara. Sebab, di dunia ini kebebasan pada hakekatnya adalah kerinduan akan kesempurnaan.”
“Kesempurnaan itu mengandaikan manusia mampu memperkembangkan dirinya dan ini hanya bisa dijalankan bila manusia di dunia ini bebas. Maka, Barata, janganlah berprasangka bahwa rakyatmu sedang melakukan kejahatan bila mereka mengadakan huru-hara. Sebaliknya, jernihkanlah pikiranmu terlebih dahulu akan kemungkinan bahwa huru-hara itu mungkin disebabkan oleh benih-benih kebaikan dan kebebasan yang seharusnya tumbuh tetapi terhalang oleh kesempitan dunia.”
“Maka, perhatikan pula, Barata, bahwa pertama-tama bukan hukum yang mengatur negeri, melainkan cinta yang memungkinkan kebebasan itu berkembang. Hukum itu semata-mata mengatur perjalanan manusia seperti nasib yang sudah dipastikan, sedangkan cinta memberi manusia kebebasan untuk meraih kesempurnaannya.”
“Hukum itu adalah suatu kesetimpalan, mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat. Sedangkan cinta itu lebih daripada hukum. Cinta itu adalah kemurahan hati, yang selalu siap memaafkan.”
“Bagaimana, Barata, kamu dapat memerintah kerajaan dengan cinta? Ingatlah, bahwa pertama-tama kau sebenarnya harus memerintah dan menjadi raja bagi dirimu sendiri, sebelum memerintah dan menjadi raja bagi rakyatmu.”
“Artinya, kau harus manguasai segala nafsumu, kamu harus menjadi bebas sendiri, tanpa keinginan memaksakan apa pun. Dengan kebebasanmu yang tak terikat pada kehendak dan kemauanmu yang kaku, kau akan terbuka untuk mendengarkan raknyatmu.”
