Benar-benar mengesalkan. Saya sempat berpikir untuk menebangnya, menggantinya dengan tanaman yang benar-benar cocok. Jambu atau rambutan.
Tapi, Emak meminta, biarlah sisa satu. Janganlah sisa satu ditebang semua.
Soal buah belum jadi atau belum bagus, tidak apa, katanya.
“Mungkin nanti bisa bagus”.
“Daunnya bisa diambil untuk obat,” tambah Emak.
Ya, daun sirsak sering diambil. Diambil oleh kami atau keluarga yang datang. Rebusan daunnya, katanya manjur untuk menurunkan darah –tapi, perhatikan porsinya.
Alhamdulillah, Emak benar. Akhirnya, setelah semut-semut di pohon ditangani, disemprot, buah mulai banyak yang jadi, dan beberapanya bagus. Hijau-kuning ranum tanda masak bagus terlihat.
Kami memanennya, serentak. Beberapa buah bisa dibagikan. Sampai hari ini. Bunga dan buah tiada henti.
Kini tak ada lagi cerita “barang itu”.
Keseramanyang dahulu pernah dibicarakan sudah dilupakan. Kini, pohon sirsak menjadi terlihat menarik. Buah-buah yang menggoda mata dan rasa. (*)
