Ketika identitas seseorang sudah menjadi maya, maka ‘prinsip kerukunan’ bermasyarakat yang masih berlaku di Indonesia menjadi tidak cocok lagi. Dalam ‘prinsip kerukunan’ setiap orang harus menekan kehendak diri sendiri sedemikian rupa demi kerukunan di masyarakat. Prinsip kerukunan meminta penghormatan itu dari ‘bawah’ ke ‘atas’. “Sudah, mengalah sedikit tidak apa, asal masih tetap rukun. Apalagi dia itu atasan kita” merupakan ungkapan yang sangat lajim didengar.
Cara penghormatan seperti itu terjadi karena dalam berinteraksi, didasarkan atas jawaban dari, “Siapa aku, siapa dia”. Jawaban untuk pertanyaan ini tidak mudah dijawab dalam dunia maya karena identitas lana interaksi yang sesungguhnya tidak diketahui. Karena itu, prinsip kerukunan menjadi tidak cocok dalam hidup bermasyarakat di dunia maya dan perlu diganti dengan prinsip lain. ‘Prinsip kewajiban’ kiranya dapat digunakan sebagai pengganti.
Prinsip kewajiban menekankan, setiap orang wajib menghormati orang lain. Implementasinya dalam dunia maya, setiap orang yang sedang berinteraksi dengan orang lain di dunia maya wajib saling menghormati satu sama lain walau pun indentitas yang sebenarnya tidak diketahui.
