“Baiklah. Sekarang cucilah tangan dan kakimu. Sudah aku buat semangkok sop jagung. Mari kita makan berdua mumpung masih hangat ini”
Malam sudah bergeser mendekati puncak. Burung hantu telah lama menghentikan nyanyiannya. Hati kakek gundah. Ia sangat kecewa. Ia tidak dapat membuatkan istrinya, secangkir kopi hangat di malam Natal. Beberapa titik air mata jatuh dari cekungan bola matanya.
“Tak apa, Kek!. Kita masih dapat menghabiskan sisa air sop tadi. Ke sinilah! Peluklah aku”.
“Hatimu, jauh lebih hangat dari secangkir kopi apa pun” lanjut si nenek.
Tiba-tiba, di halaman ada mobil masuk. Sorot lampunya menembus jendela, mengejutkan mereka.
“Kakek!, nenek!, kami datang!!!. Kami bawakan kalian kopi kesukaan kalian”
Malam itu, mereka merayakan malam NataL Ditemani dua orang cucunya yang tinggal di kota. Di tangan mereka tergenggam secangkir kopi hangat. Di dalam hati si kakek berdoa, “Tuhan, Engkau datangi kami dengan Keadilan-Mu”.
Semoga!
Salam dari Pakem Tegal, Yogya
