in

Reuni Indo Journalist Programe 1 dan 2 di Pontianak

WhatsApp Image 2020 07 18 at 11.51.40
Indo Journalist Programe II di kediaman peraih Pulitzer Prize, wartawan senior Boston Globe, Larry Tie, 2002. Dok

Oleh: Nur Iskandar

Tahun 2001 dan 2002 Kedubes AS bikin Indo Journalist Programe (IJP). Erwan Widiarto jurnalis Jawa Pos terpilih di angkatan 2001, sedangkan saya saat itu wartawan di Harian Equator (Jawa Pos Media Group) terpilih di angkatan 2002. Setiap angkatan jumlah jurnalis yang lolos ke program IJP tak lebih dari 13 orang. Umumnya mereka dari daerah yang rawan konflik di seluruh Indonesia, atau minimal berpengalaman meliput konflik berdarah-darah….Kalbar saat itu amat sangat rentan dengan isu dan konlik laten antaretnik. Media massa merekam seluruh peristiwanya dengan baik. Walaupun konflik berdarah-darah tentunya tidak baik.

Nah, sebagai penutup dari dua angkatan program IJP, ada seminar internasional yang diselenggarakan di Kota Pontianak. Hadir narasumber President Mass Media Ethics dari Universitas Brigham Young, Prof Dr Ralph D Barney dan peraih Nieman Fellowships seangkatan dengan Mas Andreas Harsono–pendiri Yayasan Pantau–Roberta Baskin. Hadir pula saat itu sebagai Keynote Speech CEO Jawa Pos Pak DIS alias Dahlan Iskan. Hadir alumni IJP seluruh Indonesia termasuk instruktur Institute for Training and Development (ITD yang berpusat di Amherst, Massachussets, AS, Elias Tana Moning). Nah, di tahun 2003 itulah saya kenal Mas Erwan Widiarto yang punya reputasi liputan sangat mengesankan di Jawa Pos. Beliau salah satu “anak emas” Pak DIS. Khususnya di Jateng. Tak heran beliau menjadi Pemred Radar Jogja dan jadi langganan liputan ke-LN seperti Selandia Baru, Singapore dan Malaysia.

Setelah pertemuan di seminar internasional di mana Mas Erwan satu pesawat dengan Pak DIS, kami tak lagi pernah ketemu. Paling banter ber-SMS dan saling pantau via FB, Ndilalah, baru tadi, Jumat, 22/7/16 kami bertemu kembali. Istilah FB’ers “kopi darat” setelah 13 tahun tak jumpa! Kopi darat di Hotel Stars kawasan Jalan Gajahmada dalam perjalanannya pulang ke Jogja setelah menjadi instruktur bersama Ketua Yayasan Mekar Pribadi, alumni AFS 1978 (lebih senior ketimbang Prof Dr Anies Baswedan yang kini Mendikbud) Oetari Noor Pribadi. Mereka menjadi instruktur dengan tema pelestarian budaya dan tradisi dengan menyentuh wilayah perbatasan, maka diambil pilot project Kabupaten Bengkayang. Di sana ada wartawan gesit bernama Mujidi nan aktif membantu. Mujidi pernah satu kantor dengan saya di Equator (kini Rakyat Kalbar) dan Borneo Tribune. Kini, setelah Borneo Tribune tutup, Mujidi menjadi Pemred Tabloid di Kota Bengkayang.

WhatsApp Image 2020 07 18 at 11.53.48
Alumni IJP 1 Erwan Widyarto (kiri), saya dan Alumni Program AFS, Oetari Kusumawardhani di Hotel Star, Pontianak. Reunian.

Sejak pertama jumpa, Erwan menyodorkan dua buah buku kepada saya. Masing-masing berjudul Produktif Sampai Mati dan Membangun Pers Indonesia yang Bertanggungjawab. Kami diskusi soal media bla bla bla. Sampai berlanjut belanja camilan khas Kota Pontianak di PSP sekaligus cari kaos serta batik motif Dayak / Melayu yang khas.

Panjang lebar kami bercerita sampai Jumatan di Mujahidin dan makan siang di Cafe Glean, Jl Tamar. Sayang sekali waktunya singkat sehingga tak sempat dibawa berkunjung ke komunitas-komunitas peduli pendidikan semacam Club Menulis, Kampoeng English Poernama dan gerakan sosial semacamnya….Pukul 15.00 Mas Erwan sudah harus take off via Lion ke Jakarta (transit) kemudian meneruskan penerbangan ke Jogja. “Orang Jakarta tak tahu kalau ada direct penerbangan NAM Air Pontianak-Jogja sampai dua kali sehari. Saya harus berkorban waktu dan tenaga,” ungkapnya seraya mengesalkan pemesanan tiket “kagak” koordinasi terlebih dahulu dengan dirinya. Padahal jurnalis ‘kan kaya info 🙂

Mas Erwan ini hebat fren. Ia selain jurnalis juga penulis buku yang produktif sekaligus motivator. Ia juga cinta lingkungan hidup dengan mempelopori Griya Sapu Lidi di Jogja. Griya Sapu Lidi ini mendapatkan penghargaan khusus dari Sri Sultan HB-X. Rrruarrr biasa gebrakannya. Istilah kami, ini jurnalisme struktural! Persis seperti yang kami kembangkan di Kalbar…

Banyak kesamaan saya dengan Mas Erwan. Orang tua sama-sama guru. Kami sama-sama jurnalis. Sama-sama penulis buku dan instruktur pers. Mas Erwan juga 7 tahun menjadi dosen MK Jurnalistik di jurusan KPI Univ Muhammadiyah Yogyakarta, namun karena banyak tugas lain yang menantang, dunia kampus terpaksa ditinggalkannya….

Mas Erwan bertanya soal Borneo Tribune dan kegiatan saya saat ini. Saya jelaskan bahwa Borneo Tribune sudah tutup buku. Alasannya, karena media luar negeri jga banyak yang tutup akibat digempur media online dan TV berita. Termasuk sosial media. Aktivitas saya sekarang utamanya menulis buku, mengajar di kampus dan riset politik serta hobi bertani sesuai dengan background akademis saya: Pertanian. Selebihnya berkecimpung di sejumlah organisasi sosial.

Saya bersyukur bersua Mas Erwan Widiarto, satu dari sedikit jurnalis yang mau menisbahkan waktunya bagi urusan-urusan sosial pendidikan praksis. “Kita tak boleh lupa menyemai kebaikan untuk sebuah masa depan. Masa depan setelah kematian,” ungkapnya. Idiiih serem 🙂 Namun itu kepastian dalam kehidupan.

Itulah hebatnya Mas Erwan. Dia berdakwah secara halus. Bahkan disampaikan dengan cara humor, sehingga menghunjam kuat dalam perasaan.
Sampai ketemu lagi Mas Erwan. Pada waktu dan gelombang berikutnya 🙂


Foto di sebelah kanan saya, Bu Oetari Noor Permadi tak kalah seru. Beliau ini penyiar di TVRI. Kita tak asing melihat wajahnya yang tetap cantik. Putri dari seorang guru besar ini punya pikiran besar. Dia mengirimkan 12 “anak-anak perbatasan” ke Prancis dalam event kebudayaan. Lamanya tak tanggung-tanggung, 2 bulan. Biayanya pribadi!
Saya belajar dari kisah yang disampaikannya. Semangatnya. Dan tentu kisahnya mengikuti program AFS. AFS saya tangani sejak 2013 melalui penunjukan Ketua Chapter Kalbar (Pontianak) dari Yayasan Binabud Pusat (Jakarta). Sudah 3 orang kembali dari AS ke Bumi Khatulistiwa. Ada 2 tahun ini yang akan gowes ke LN. Satu ke AS, satu lagi ke Italia.

Kesimpulan saya: kerja belum selesai–belum berarti apa-apa. Banyak pendahulu yang bekerja lebih keras dengan hasil lebih rrruar biasa. Terus terang, jelous. Terus terang cemburu….

Oleh karena itu saya amat sangat bersyukur bisa bersua Mas Erwan sekaligus berkenalan dengan Kak Oetari. NB: Sapaan Kak atau Kakak khas AFS/YES Binabud….
Insya Allah lain waktu kami akan bertemu kembali. Amiin…*

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

PicsArt 03 07 01.07.24

Rumah Literasi: Cerita Bahagia untuk Buku Pertama

IMG 20200630 WA0001

Jasa Lain Sultan Hamid: Maskapai Garuda Indonesia dan Perubahan RIS ke NKRI