Kami di Riam Panjang Kapuas Hulu juga menerima bantuan tersebut. Bahkan saya sempat menyeret sapi IDT memindahkan dari satu titik ke titik lain, memindahkan ke lahan-lahan berumput tinggi. Maklum waktu itu sapi dipelihara dengan cara diikat dan mencari sendiri rumput-rumput yang ada. Tidak ada istilah ngarit rumput seperti yang umum dilakukan peternak sapi.
Tapi, sekarang sapi IDT sudah lama tiada. Kelompok bergulir juga entah ke mana. Entah berapa putaran.
Di dusun di Ulu Sambas ini rupanya berbeda. Kelompok IDT masih ada. Sapi, juga masih ada.
Pae salah satu ketua kelompok –dari 15 kelompok yang ada. kelompok ini anggotanya ada 12.
Sapi yang datang kemarin itu adalah tukaran dari sapi kelompok. Sapi itu diserahkan pada salah satu anggota yang sedang dapat giliran. Ini, kata Pae, putaran yang kesekian sejak tahun 1990an itu.
Sapi bagi orang di sini adalah peliharaan utama. Hampir setiap rumah punya. Sapi menjadi tabungan keluarga. Pendapatan harian mereka peroleh dari karet dan sawit. Ada sahang. Lalu, sapi.
Tentu saya takjub pada cerita ini. Luar biasa orang di sini menjaga amanah pemerintah. Ini bisa jadi model bagi masyarakat lain. Ya, terpulanglah pada pemkab Sambas dan pemprov. Kalbar. (*).
