Opini

Selebrasi Kelewatan Mencoreng Pendidikan

Selebrasi Kelewatan Mencoreng Pendidikan

Mirisnya, pengumuman kelulusan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) itu berbarengan dengan perayaan Hari Pendidikan Nasional. Masih segar euforia ketika para siswa menemukan nama mereka di papan pengumuman kelulusan, kini hadir perayaan hari pendidikan. Evaluasi sudah selayaknya dilakukan terhadap akhlak lulusan SMA maupun SMP. Karena pada hakikatnya, pendidikan bukan sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai.
Manusia terdidik akan mampu mem-filter mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan nilai-nilai tersebut. Potret pemuda yang corat-coret baju itu demikian jelas menggambarkan bahwa mereka tidak memiliki karakter yang baik. Suksesnya proses pendidikan seharusnya memproduksi manusia-manusia dewasa berakhlak mulia, bukan anak-anak alay yang kerjanya hanya senang-senang.

Meskipun tidak semua siswa yang melakukan demikian, ada sebagian siswa melakukan hal-hal positif. Sebagai contoh sebagian siswa yang berada di Yogyakarta, mereka merayakan kelulusannya dengan cara membagikan sebanyak 2000 nasi bungkus dan 3000 susu kepada masyarakat tak mampu. Hal ini menggambarkan bahwa pendidikan yang ia emban selama 3 tahun, menghasilkan moral yang berakhlak dan mampu berfikir jernih.