Opini

Serangan Militer Aleppo dan Pelajaran Damai dari Kalbar

Serangan Militer Aleppo dan Pelajaran Damai dari Kalbar

Lalu saya bertanya, “Apakah sedikit orang pinter dunia yang bisa menyerukan damai? Apa tak cukup agama-agama langit diturunkan untuk sampel hidup damai? Apa tak cukup teladan para Nabi dan Rasul yang jumlahnya 25 atau puluhan ribu bahkan ratusan ribu itu? Aneh….rasanya banyak orang pintar dan benar, namun kalah dengan agresi dendam dan nafsu kekuasaan sampai mabok, rela membunuh anak yang masih dalam kandungan….membunuh harapan–bahkan membunuh generasi emas sendiri?”
***

Nah, saya bersyukur hidup di Tanah Kalimantan. Saya pikir, kita warga Kalimantan adalah warga pembelajar yang cerdas. Kita “bosan” dengan perang berdarah-darah karena beda budaya dan beda etnis. Kita sejak 15 tahun terakhir sudah bisa ‘power-sharing’.

Contoh di Kalbar. Gubernur Cornelis itu Dayak/Katolik, wakilnya Christiandy Sanjaya itu Tionghoa/Kristen Protestan, dan Sekda-nya MZ Hamdy Assovie itu Melayu-Arab/Islam. Ini koalisi yang baik sekali. Cermin keindonesiaan yang diikat seloka Bhinneka Tunggal Ika.

Lalu lihatlah 15 tahun terakhir kita sudah bisa membangun. Jembatan Tayan yang hampir menyerap angka pembangunan Rp 1 triliun itu menambah indah persatuan antara daerah yang terisolir. Mengoneksikan jalur darat antara Pontianak, Landak, Sanggau dan Ketapang-Sukadana.

Bertambahlah kejayaan infrastruktur dari sekedar Jembatan Tol Kapuas 1 dan 2 plus Jembatan Landak. Ini aset perekonomian kita yang harus dijaga.