Kedua, kematian kepakaran. Ini istilah dari Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise, yang coba penulis adaptasi dalam konteks mutakhir Indonesia. Karena setiap orang sudah merasa dirinya paling pandai dan paling benar, maka dengan jumawanya ia mendalilkan kebenaran semata dalam sudut pandang dan kepentingannya. Suara-suara para cerdik pandai tidak lagi didengar dan menjadi rujukan, terlebih lagi jika yang bersangkutan telah dipetakan sebagai pro kelompok lain. Semua orang larut dalam euforia “kebebasan saling mencaci maki”.
Pada akhirnya kita sama-sama terperangkap dalam labirin pengap yang kita ciptakan sendiri. Lambat laun mengakibatkan kekurangan “oksigen” untuk bernafas dalam kegembiraan dan kehangatan berbangsa dan bernegara.
Mau tidak mau, kita harus menarik jarak dulu dari ruang yang demikian. Untuk mendapatkan suplai “oksigen” demi bertahan dalam waktu yang lama. Suplai “oksigen” berbangsa ini bisa kita ambil atau gali lagi dari sari pati (atau protein) Pancasila.
Pandangan dunia dan ideologi bangsa, yang mengikat segala keragaman negeri ini dalam satu komitmen bersama. Kemana Pancasila yang menjadi modal ampuh kita selama ini? Hilangkah eksistensinya dalam jiwa berbangsa kita? Ataukah ia ikut mati, bersama matinya kebenaran, matinya kepakaran dan matinya kebahagian berbangsa?
Tentu ini adalah pertanyaan reflektif, untuk menginggatkan kita semua. Bahwa ada cita-cita besar kita berbangsa, lebih besar dari sekedar perebutan “kekuasaan”, yang sunatullahnya pasti timbul tenggelam.
