Episteme adalah istilah Michel Foucault bermakna kaca mata yang digunakan masyarakat untuk menilai realitas, termasuk menjadi kriteria kebenaran versi yang menggunakannya. Sementara semua realitas sudah terpolarisasi ke dalam posisi biner (berhadap-hadapan), hitam putih, benar salah. Jika tidak satu kepentingan, maka berarti lawan.
Jadi episteme kebenarannya adalah kepentingan masing-masing pihak. Sehingga kebenaran kehilangan esensinya, menjadi berhala. Kebenaran bukan diuji sebagai pengetahuan atau berdasarkan standar etis dan estetis, akan tetapi menjadi sebatas ideologis. Sehingga narasinya, menjadi ajang klaim mengklaim dan yang paling lantang dan digjaya hegemoninya (via perang buzzer).
Banyak yang “wafat” dalam pertarungan wacana (istilah Foucault untuk medan pembicaraan, diskusi dan polemik guna meneguhkan hegemoni) yang demikian. Matinya kebenaran (death of truth), matinya kepakaran (death of expertise) dan matinya kehanggatan berbangsa (death of happines).
Pertama, kematian kebenaran, sebab kebenaran tidak lagi lahir sebagai objektivitas berpikir atau proses berpengetahuan, melainkan hanya sebatas klaim kebenaran. Kalau sudah sedemikian rupa, bagaimana mungkin dapat menerima kemungkinan kebenaran pada pihak lain. Ruang kompromi yang menjadi jiwa eksistensi bangsa ini, lambat laun akan pupus.
