Panggung politik adalah panggung mereka, dan mereka bagian (atau merasa bagian) daripadanya. Perhelatan itu tanggung jawab mereka langsung atau tidak langsung.
Bahkan, pada sebagian mereka mengganggap pertarungan calon adalah pertarungan mereka. Kemenangan calon kemenangan mereka. Pesta calon adalah pesta mereka. Sebaliknya, kekalahan calon adalah kekalahan mereka.
Kehampaan calon pun berarti kehampaan mereka. Bagian kehidupan mereka selanjutnya, seperti seakan-akan ditentukan di sini.
Tapi, coba lihat pandangan mereka yang risaukan obrolah pilgub. Mereka menganggap pilgub urusan politisi. Mereka melihat pesta dari jauh.
Kemenangan calon bukan kemenangan mereka. Kekalahan pun juga bukan kekalahan mereka.
“Tak ngaru pun”.
“Paling… sekarang yang ribut, kalau sudah duduk, lupa”.
Pandangan ini mengingatkan saya pengalaman dulu.
Dahulu, ketika saya sering ke pedalaman, saya kerap mendengar pandangan ini. Warga tidak antusias mendengar obrolan politik. Mereka malah menganggap politisi sebagai penebar janji kosong. Banyak bulaknya.
Jalan ke kampung tetap rusak parah. Listrik belum ada. Sinyal begitu juga. Ekonomi susah –karet murah dan harga barang naik, sekolah jauh, mau jadi pegawai tak berani bermimpi. Bagi mereka, siapa pun yang memimpin tak akan kenal pada mereka. Tak pun jejak ke kampung mereka.
Begitulah… dahulu.
Entahlah, sekarang.
Entah juga yang akan datang.
Kalau saya, ya… sah-sah saja. (*)
