Oleh: Yusriadi
Di dalam sebuah seminar di Pontianak, beberapa pekan lalu, saya menyampaikan situasi rivalitas etnik-agama di Kapuas Hulu. Pada kesempatan itu saya mengingatkan dinamika sosial politik di sana yang dinamis, tetapi juga unik. Penyelenggaraan Pilkada serius, tetapi, kontestasi dan relasi antara suku-agama menyisakan beberapa kisah mesra.
Selama ini memang banyak yang terjebak melihat Kapuas Hulu seperti melihat keadaan di Kota Pontianak, Sambas, Ketapang, dll. Kapuas Hulu dilihat sama keadaan dan dinamika etnisitas dan agamanya dibandingkan tempat-tempat itu.
Saya tidak ingin menyebutkan ilmuwan-ilmuwan yang menggeneralisir situasi Kapuas Hulu. Saya juga tidak akan menunjukkan elit politik (bahkan parpol) yang pernah terjebak dalam situasi ini. Tak tega pula untuk menyebut beberapa orang teman yang sudah terperangkap dan “runtuh” setelah pesta.
Cukup tahu sendirilah. Kalaupun ada di antara pembaca yang tahu, cukup angguk-angguk sendiri saja. Bukan itu esensinya.
Saya hanya ingin mengingatkan situasi ini, khususnya menjelang pemilihan kepala daerah (Bupati KH 2020). Setidaknya saya mengulang kaji terhadap data-data yang pernah dikumpulkan di berbagai kesempatan dan tempat.
Kelihatannya sebagian orang mulai lupa pada peristiwa sebelumnya, khususnya pada bab ini. Beberapa nama sudah muncul dalam pembicaraan publik dan mungkin akan menjadi calon, melamar dan memikat, mencari dukungan.
