Mungkin pada akhirnya akan ada edisi menyalip di tikungan dan mendahului di tanjakan, menaburkan janji dan lain sebagainya. Edisi ini sering meluluhlantakkan hubungan emosional keluarga dan “urang diri”, yang pada ujungnya membuahkan duka dan merana berkepanjangan.
Saya bukan orang politik dan tentu memiliki perspektif berbeda dengan para politisi. Tetapi, lepas dari perbedaan itu, saya merasa pesan soal ini perlu disampaikan kepada orang yang bakal menjadi calon dan politisi yang berhak mencalonkan.
Inilah wujud sayang saya pada urang diri’ yang akan bertarung. Mereka perlu diingatkan untuk membatasi syahwat politik; jangan diturutkan semua keinginan, apalagi kalau keinginan itu didorong oleh orang lain yang memiliki agenda tersendiri.
Ingat, setelah pertarungan usai, orang lain akan pergi mencuci tangan menjauhi kita. Menang atau kalah, keadaannya akan kurang lebih sama situasi psikologisnya.
Saya akan merasa “golu” melihat teman menjadi korban dan diperalat oleh orang lain. Golu ketika melihat mereka jatuh terseok-seok.
Politisi pun juga perlu menimbang bahwa orang yang akan dicalonkan mestilah sosok yang terbaik yang dapat membawa Kapuas Hulu menjadi kabupaten maju. Ada media surveinya. Pilihan yang tepat saat mencalonkan seseorang pasti berkonsekuensi atau memiliki efek bagi partai dan dirinya di masa selanjutnya (ingat efek ujung baju).
