Siapa yang melobi Sultan dan raja diluar Jawa menjelang integrasi Natsir 3 April 1950 atau hanya gara gara membentuk KOMPI DAYAK kah, atau gara gara “marah” karena masuknya Tentara Nasional ke Pontianak tanpa permisi dengan Kepala DIKB dan sebagai Sultan ke VII, tersinggung, coba benar benar baca pledoi beliau dan lihatlah Fakta sejarah yang obyektif, atau mengapa seorang prof kemudian tendensius Sultan Hamid II dibentur benturkan dengan Sultan Yogyakarta ke IX, Hamengku Buwono, teliti fakta sejarah adakah Sultan Hamid II terlibat di pemberontakan Westerling di Sulawesi dan Bandung Januari 1950 sementara beliau di Pontianak bersama Muhammad Hatta, bukankan tuduhan primer tak terbukti dipersidangan dan membebaskan beliau dari tuduhan tersebut, apa ngga baca putusan MA, 1953, apakah tidak cukup melanggar HAM Sultan Hamid II selama 3 tahun dan ditangkap tahanan politik tanpa persidangan 1958.
Apakah stigma Kalbar yang dahulu damai dan hidup berdampingan semua etnis dengan rukun dan damai, begitu pula dihargai para Temenggung dan Panglima Perang Dayak yang pernah diundang di hotel Des Indes, di cerdaskan “jangan sampai dijajah bangsa sendiri'” dan jaga tanahnya yang mana wilayahnya tanah dibagi tiga bagian tanah swapraja, tanah grand Sultan, Raja, dan tanah Tembawang saudara kami Dayak ketika DIKB sejak 1947.
