Di depan hotel dan resto Surya Alam, seorang ibu berbaju dan berkerudung merah marun menjadi orang terakhir yang dijemput. Si ibu tidak sendiri. Ia ditemani barang bawaan yang sangat banyak. Setidaknya saya melihat 1 pikap terisi penuh. Tak ayal panjang waktu untuk memindahkan barang ke bagasi. Penumpang tampak gelisah.
Putra Turiman berseloroh, “Ini buat lama kita di pemeriksaan Imigrasi nanti.” Kami hanya saling pandang. Macam-macamlah hajat para penumpang.
Damri kemudian menderu. Tancap gas seperti membayar waktu yang tergerus penumpang jemputan.
Sejurus waktu kemudian, riuh rendah perbincangan mulai hilang. Damri benar-benar lengang. Para penumpang agaknya telah dibuai mimpi masing-masing. *
