in

Anak kecil yang meminjam uang ayahnya

dr leo sutrisno
Dr Leo Sutrisno

Di suatu petang, ada seorang bapak yang baru pulang dari kerja. Tiap hari ia lembur 2-3 jam lepas jam kerja. Betapa kaget, mendapati anaknya yang berusia 5 tahunan duduk sendiri di kursi tua di luar pintu depan menunggunya.

Aneh! Ada apa anak ini? pikirnya di dalam hati. Walau terasa amat letih, ia berusaha tersenyum sambil menyapa anaknya.
“Ada apa Nak? Biasanya kau sudah tidur ketika bapak pulang”

Sambil menggandeng tangan si anak yang terasa dingin, ia melanjutkan,
“Ayo masuk!. Bapak mau cuci tangan dulu.”

Mereka berjalan ke dalam.
“Tunggu Bapak, ya. Duduklah dulu.”

Dengan bergegas ia mandi, berganti pakaian, kembali menemui anaknya.
“Bapak minum, ya”

“Maaf, sudah lama kubuat, Pak. Tentu sudah dingin”

“O, ya. Terima kasih, Tak apa. Tetap membuat badan Bapak kembali segar”. Katanya sambil duduk di samping si anak.

“Pak, berapa bayaran per jam kerja lembur Bapak?” Tanya si anak.

Ia terkejut, dan sedikit tersinggung dengan pertanyaan itu.
“Lumayan. Tetapi, kenapa kau bertanya semacam itu? Bukan urusanmu!” Katanya dengan suara bernada agak tinggi.

“Ya, Pak. Sekedar ingin tahu saja” Jawab anaknya sambil menggelendot di tubuhnya.

Ia teringat perilaku almarhumah istrinya jika ingin sesuatu. Persis seperti ini. Menggelendot manja. Walau agak berat hati ia berkata,
“Baiklah. Jika kau benar ingin tahu. Lima ribu per jam”

“Oh!” Sahut si anak

“Bolehkah aku pinjam seribu saja?” Tanya si anak sambil memainkan kancing baju bapaknya.

Ia semakin kaget dan muka sudah memerah.

“Sudah kau tidur sana! Besok Bapak jawab. Sekarang masih capai” Sahutnya sambil mendorong anaknya tergolek di balai.

Anak itu langsung menelentangkan tubuh di balai dan miring memunggi bapaknya. Ia pun segera pergi ke dapur sambil membawa cangkir minumnya.

Beberapa lama ia duduk di sana. Mencoba menarik napas panjang, menenangkan hati. Cangkir kaleng yang telah kosong itu dipandangi lama.

‘Heem, tiap sore anak manis ini telah menggantikan kerja ibunya. Menyiapkan makan malam dan minum untuknya’. Katanya di dalam hati.

‘Mungkin anak ini mau beli mainan seperti milik kawan-kawannya’. Pikirnya lagi.

Selang beberapa lama kemudian ia kembali ke balai. Anaknya masih memunggungi dirinya. Sekali lagi mengingatkan perilaku istrinya jika kecewa terhadapnya. Pura-pura tidur miring memunggunginya.

“Nak. Kau belum tidurkan?” Bisiknya sambil membetulkan pita di rambut si anak mungil yang cantik itu.

“Bapak minta maaf, Nak. Tadi agak kasar. Bapak masih capai”.

“Belum, Pak. Tak bisa tidur”. Jawab si cantik tanpa membalikkan badan.

“Ini uang yang akan kau pinjam tadi. Kau ambil saja. Itu sebenarnya Bapak siapkan untuk membeli bubur sarapanmu besok pagi”. Katanya sambil menunjukkan selembar uang ribuan.

Anak itu langsung duduk dan mendekap erat tubuh bapaknya.

“Terima kasih, Pak.” Kata si anak langsung merebut uang dari tangan bapaknya.

Kemudian ia menarik ujung tikar yang berada di bawah bantal. Mengambil uang yang disimpan di dalam tas kresek. Di tangannya, kini ada lima belas lembar uang ribuan.

Mukanya memerah lagi. Ia merasa diperdaya oleh anaknya. Namun, berusaha ditahan. Wajah istrinya yang sedang tersenyum gembira muncul di kelopak mata si anak kecil itu.

“Sekarang saya sudah cukup uang untuk memberi upah lembur ayah. Besok sore kita berdua makan malam bersama, ya Pak. Aku ingiiinnn sekali. Sekali saja, Pak!” Kata si anak sambil meletakan seluruh uang tersebut di telapak tangan bapaknya.

“Sekarang aku akan tidur pulas. Selamat tidur, Bapak”

Tidak lama berselang sudah terdengar napas lembut anaknya yang sungguh tertidur lelap. Dicium kening si mungil itu sambil membetulkan kain selimutnya.

“Sampai besok anakku. Besok Bapak tidak akan lembur. Kita akan makan malam bersama dilanjutkan dengan main ular tangga kesukaanmu”

Kembali wajah almarhumah istri muncul di diding papan rumah sederhana ini. ak berapa lama kemudian ia pun tertidur lelap sambil mendekap tubuh si mungil yang cantik itu.

Selamat malam Sahabat.
Salam dari Pakem Tegal, Yogya, 24-8-2020
Leo Sutrisno
Cerita ini diilhami dari kisalh di laman http://english.anhuinews.com/system/2008/05/09/002010395.shtml sambil mendengarkan 999 hz | Frekuensi Malaikat | Aktivasi Tubuh Cahaya | Kubus Metatron | Perlindungan Ilahi

Berbagi itu indah:

kembalinya-sang-guru-ke-kapuas-hulu

Kembalinya Sang Guru ke Kapuas Hulu

Mencari “Panglima Burung”