Oleh: Eka Hendry, Ar.
Senin, (7/12/2020) publik negeri ini digemparkan oleh informasi bahwa telah terbunuhnya 6 orang pengawal Habib Rizieq Syihab (HRS). Sejauh ini, informasi yang berkembang cenderung bertolak belakang, antara versi polisi dan Front Pembela Islam (FPI). Pada sisi ini yang menarik perhatian penulis, yaitu narasi yang dibangun kedua belah pihak. Narasinya jelas dalam posisi diametral atau bertolak belakang.
Narasi ini mudah sekali dikonstruksi berdasarkan kepentingan masing-masing pihak. Karena sejatinya publik kita sudah terbelah dari beberapa waktu terakhir. Kalau dirunut, pembelahan telah dimulai semenjak kontestasi Pilpres yang terakhir antara Jokowi dan Prabowo. Residu dari keterbelahan itu ternyata tidak malah memudar, seiring dengan telah bergabungnya Prabowo ke dalam kabinet Jolowi. Di akar rumput, perseteruan “kampret” versus “cebong”, terus berlanjut dengan beberapa formula baru.
