Publik di sisi lain, akan sangat mudah bereaksi dengan “kegaduhan” tersebut. Karena ini sebenarnya tujuan dari komunikasi politik elit. Harapannya mendapatkan dukungan dan pembenaran dari publik. Berbagai logika, argumentasi dan fakta yang disuguhkan, seolah-olah paling benar dan akurat. Problemnya publik kadang tidak lagi mementingkan esensi atau kebenaran dari narasi yang ada. Karena yang jauh digandrungi publik adalah mencari narasi yang sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Jadi berlaku adagium, “sesuai dengan yang dipikirkan, bukan sesuai dengan kebenaran”.
Terlebih lagi publik sudah dalam situasi yang “terbelah”, tensi kebencian, prasangka dan stigma buruk sudah kadung dominan. Sehingga dengan mudah akan terkonstruksi meta narasi, yang di pas-paskan (dicocok-cocokkan). Jadilah narasi konspiratif, yang semekanis sebuah fuzzle. Dari situasi yang demikian, maka dapat dipastikan dialektika yang terbangun bukan lagi mementingkan esensi kebenarannya. Akan tetapi siapa yang paling pamungkas menjadi buzzer atau propagandis.
